• TRISTIONOs Calendar

    December 2016
    M T W T F S S
    « Oct    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • tYo’s File Archive

  • tYo's File Categories

  • tYo’s Music

    @import url(http://beemp3.com/player/embed.css);
    Celine Dion - The Power Of Love
    Found at bee mp3 search engine

Berbagi Info Fotografi

From : http://www.motoyuk.com/2009/09/09/klub-foto-week-1-apperture/?utm_source=BlogGlue_network&utm_medium=BlogGlue_Plugin

Hari ini kebetulan adalah pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini aku share mengenai penggunaan apperture. Seperti mungkin sebagian besar sudah paham bahwa fotografi bergantung pada exposure. Exposure sendiri bergantung pada 3 variabel :

  1. Apperture : menyatakan seberapa besar bukaan pada lensa. Apperture besar (misalnya f2.8) menyalurkan lebih banyak cahaya pada sensor kamera. Sedangkan apperture kecil (misalnya f11) membuat sensor butuh waktu lebih lama (shutter speed panjang) agar memperoleh jumlah cahaya yang sama.
  2. Shutter speed : menyatakan berapa lama kita mau membiarkan cahaya masuk melalui lensa dan mengenai sensor. Berapa banyak cahaya yang masuk tentunya tergantung dari apperture yang dipilih. Shutter speed yang lambat adalah penyebab paling sering foto kabur / goyang. Sebagai rule-of-thumb shutter speed yang dibutuhkan adalah lebih cepat dari 1/60 seconds, atau lebih cepat dari 1/focal length yang digunakan. Jadi misalnya kita menggunakan focal length 18mm maka shutter speed yang kita butuhkan paling tidak 1/60 seconds. Tapi dengan focal length 100mm maka paling tidak kita membutuhkan 1/100 seconds.
  3. ISO / ASA : menyatakan sensitifitas dari sensor. Makin tinggi angka ISO maka sensor akan makin sensitif, diberi cahaya sedikit saja sudah cukup. Dengan mempertinggi ISO maka kita bisa memperoleh shutter speed yang lebih cepat (dan dengan demikian gambar tidak goyang). Tetapi drawback nya adalah dengan ISO yang makin tinggi maka noise akan makin terlihat.

Minggu ini kebetulan klub foto-ku membahas mengenai apperture. Apperture yang berbeda memberikan efek yang berbeda karena adanya depth-of-field (DOF) yang berbeda. DOF adalah ruang tajam (area di foto yang masih tajam/tidak blur) yang terbentuk dari penggunaan apperture dan focal length tertentu.

Apperture besar (misalnya 2.8) secara umum memiliki DOF yang sempit. Sedangkan apperture kecil (misalnya f8) memiliki DOF yang lebih lebar. Untuk memahaminya lihat gambar dibawah ini :

sample 001 Klub Foto – Week 1 – AppertureF2.8 – 55mm

sample 002 Klub Foto – Week 1 – AppertureF4 – 55mm

sample 003 Klub Foto – Week 1 – Apperturef8 – 55mm

Bisa kita lihat bahwa pada f2.8 bagian yang tajam hanya sedikit, sedangkan pada f8 terlihat bahwa pensil yang tajam makin banyak.

Tentunya focal length yang berbeda menghasilkan ruang tajam yang berbeda pula. Lensa tele cenderung memiliki ruang tajam yang lebih sempit pada apperture yang sama. Coba praktekkan dan kamu akan melihat bedanya.

Aplikasi dari apperture

Jika kamu mau memotret pemandangan alam, maka kamu akan berusaha memaksimalkan ruang tajam yang ada. Oleh sebab itu penggunaan apperture kecil (misalnya f8, f11 atau bahkan f22) lebih tepat.

Fajar menjelang di Sanur (17mm | f11 | 1/2 secs | ISO200 | EV-1)

Fajar menjelang di Sanur (17mm | f11 | 1/2 secs | ISO200 | EV-1)

Jika kamu mau memotret model / orang dan ingin membuat dimensi dengan cara mengaburkan background yang ada, maka lebih baik gunakan apperture besar (misalnya f2.8 atau bahkan f1.2). Hal ini akan membuat obyek yang di foto terasa separasinya dengan backgroundnya.

Belai angin (200mm | f4 | 1/1000 secs | ISO 200 | EV0)

Belai angin (200mm | f4 | 1/1000 secs | ISO 200 | EV0)

DOF yang sempit akan membuat background tampak blur, sangat cocok untuk model photography. Kemampuan membuat background blur adalah kombinasi dari :

  • Sensor kamera : makin besar sensor kamera maka DOF akan makin sempit dan background blur makin mudah diperoleh. Itu sebabnya kamera pocket (yang sensornya sangat kecil dibandingkan DSLR) sulit sekali memperoleh background blur.
  • Apperture : makin besar apperture maka background blur akan makin mudah diperoleh
  • Focal length : makin tele (misalnya 85mm ke atas) maka membuat background blur akan relatif akan makin mudah
  • Jarak antara obyek dan background : apabila jaraknya makin jauh maka background blur juga akan makin mudah diperoleh

Mengkombinasikan ke empat variabel diatas butuh pengalaman tentunya. Jadi sering seringlah mencoba berbagai alternatif pemotretan.

Selamat belajar.

Setting Exposure Kamera

From : http://fjb.co/fotografi/4303-setting-exposure-kamera.html

Kadang saya mendapatkan pertanyaan dari murid saya, bagaimana cara memulai untuk setting bukaan, shutter speed dan ISO? nah tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang memiliki gaya dan kebiasaan yang berbeda-beda apalagi di jaman sekarang, dimana setiap kamera sudah punya banyak mode-mode otomatis dan semi otomatis yang canggih.

Nah, bagaimanakah gaya jaman orang dulu? sebelum kamera digital yang serba otomatis ini dibuat?

Pertama-tama adalah dengan menentukan ISO. Di jaman dulu, ISO disebut juga dengan ASA, yaitu tingkat kepekaan film. Nah, kita pertama-tama memilih film dengan ASA sesuai dengan kondisi cahaya tempat kita memotret. Di keadaan yang terang, kita memakai film dengan ASA 100 atau 200. Di kondisi yang agak gelap, kita memakai ISO 400 atau 800. Di tempat yang gelap sekali, kita memakai ISO 1600.

Hal ini bisa diaplikasikan juga di era fotografi digital. Kamera mode yang kita pakai adalah manual, supaya bisa mengendalikan nilai-nilai bukaan, shutter speed dan ISO.

Pertama-tama kita menetapkan ISO berdasarkan kondisi cahaya yang ada. Kemudian, tinggal mengatur bukaan yang dikehendaki sesuai dengan seberapa blur latar belakang yang diinginkan. Terakhir, kita tinggal mengatur shutter speed sesuai dengan kondisi cahaya yang ada.

Cara lain yang saya pakai dengan kamera Nikon adalah memanfaatkan fungsi auto ISO.

Kamera Nikon yang saya pakai D90 dan D700, dan sepertinya hampir semua kamera DSLR Nikon memiliki fungsi auto-ISO yang canggih. Ini bisa sangat membantu bila dimanfaatkan dengan baik.

Pertama-tama kita mengatur batas maksimum ISO yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai ISOnya, fotonya akan semakin buruk, tapi ISO tinggi penting juga untuk mencegah foto terlalu gelap atau shutter speed menjadi terlalu rendah sehingga gambar blur. Biasanya saya set ISO minimum ke 200 dan maksimum ke ISO 1600. Hal ini karena ISO 3200 kualitas fotonya sudah terlalu buruk menurut saya untuk kamera Nikon D90. Untuk kamera full frame seperti Nikon D700, saya berani memakai sampai ISO 4000.

Kemudian saya mengatur minimum shutter speed minimum. Nah nilai ini tergantung dari lensa yang dipakai. Kalau lensanya panjang atau saya foto benda yang bergerak, saya set minimumnya agak cepat misalnya 1/250 detik supaya foto tidak blur.

Setelah itu, saya tinggal memakai mode kamera A/Av alias aperture priority untuk mengatur bukaan, kamera akan secara otomatis mencari nilai shutter speed dan ISO yang dikehendaki.

Keuntungan memakai cara ini dibanding cara tradisional adalah kita tidak usah repot mengubah setting shutter speed dan ISO dan juga tidak takut foto menjadi blur. Lalu keuntungan lainnya adalah kita mendapatkan foto dengan nilai ISO yang lebih optimal daripada tetap di satu nilai saja.

Menguasai Exposure dan Sekitarnya

From : http://gandirsetyadi.wordpress.com/2007/12/10/315/

Menurut gua ada dua aspek dalam fotografi yang berkaitan dalam menghasilkan gambar, yang pertama dan lebih dasar adalah menghasilkan gambar yang baik, sedangkan yang kedua adalah menghasilkan gambar yang bagus. Formulanya adalah :

Menghasilkan gambar yang bagus = Kemampuan untuk menghasilkan gambar yang baik + daya kreatif

Menghasilkan gambar yang baik lebih bersifat teknis, dimana semua aspek di dalamnya dengan eksak bisa dipelajari. Menghasilkan gambar yang baik juga lebih equipment-dependent, dengan kata lain jika kita menguasai kamera (dan peralatan pendukungnya) maka gambar yang baik sudah pasti bisa dihasilkan.

Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, untuk menghasilkan gambar obyek melalui kamera, maka obyek tersebut harus terekspos oleh cahaya. Jumlah cahaya yang diterima dan dikumpulkan oleh sensor cahaya dalam kamera dalam satu pengambilan gambar inilah yang disebut dengan Exposure. Jika terlalu banyak cahaya yang diterima berakibat gambar akan terlalu terang, dan sebaliknya kalau cahaya kurang menghasilkan gambar yang gelap. So, pengaturan exposure yang tepat adalah hal yang dibutuhkan untuk menangkap gambar dengan baik. Dan dengan menguasainya selanjutnya kita bisa bereksperimen menghasilkan gambar yang kreatif.

Pada saat ini, hampir semua kamera dilengkapi dengan fitur pengukuran cahaya (light meter) yang digunakan untuk mengukur standar kebutuhan cahaya untuk pengambilan gambar. Skala meteran exposure ini berkisar dari -2 hingga +2, angka nol menyatakan jumlah cahaya tepat mencukupi yang dibutuhkan sensor untuk menangkap cahaya secara seimbang. Lebih dari nol artinya over exposure (kelebihan cahaya) dan sebaliknya adalah under exposure (kurang cahaya).

Pada pengoperasian kamera digital secara otomatis, kamera akan mengatur exposure secara automatis pula. Hal tersebut oke-oke aja, tetapi jika kita tahu bagaimana mengendalikan dan bermain-main dengan exposure maka kita bisa memperoleh gambar yang lebih baik dan lebih kreatif.

Komponen-komponen yang berpengaruh terhadap Exposure

Pengaturan nilai exposure dalam pengambilan gambar dapat dilakukan dengan mengatur (dan memadukan) antara komponen-komponen berikut:

Shutter Speed / Kecepatan Jepret

Kecepatan jepret mengatur seberapa cepat waktu sensor dalam kamera terkenai cahaya. Semakin lambat kecepatan yang kita set, makin banyak cahaya yang masuk dan mengenai sensor di dalam kamera, dan sebaliknya. Kecepatan jepret ini umumnya dinyatakan dalam seper sekian detik, sebagai contoh jika shutter speed di Canon 400D gua di set sebesar 1/4000 detik artinya jendela cahaya akan dibuka sangat cepat, dan jika 30” berarti sebaliknya yakni sangat lambat. Untuk mengatur komponen ini, pastikan setting kendali kamera pada pilihan manual (M) atau mode shutter priority (Tv).

Penggunaan kendali shutter sangat penting dan diperlukan bila kita menemui situasi dimana obyek merupakan obyek bergerak (motion), baik untuk menciptakan efek freeze maupun blur motion. Sebagai contoh yang masih anget, foto-foto ini gua ambil kemaren pas Ski Jump World Cup (thx to Dini udah ngingetin !:P) di Trondheim 8 Desember 2007, yang bisa jadi contoh berkaitan dengan shutter speed.

Fotografi Aja

Efek Freeze diambil dengan shutter speed 1/500 detik

Efek blur motion dengan shutter speed 1/60 :

Efek blur motion dengan shutter speed 1/60 :


Selain itu bermain-main shutter sangat diperlukan jika kita ingin menampilkan efek kreatif saat mengambil obyek (dengan sumber cahaya) pada situasi gelap, misal : cahaya kembang api, cahaya lampu mobil yang melintas dsb.

Jika kita bermain dengan shutter speed yang rendah, stabil tidaknya kita memegang kamera akan sangat berpengaruh, pada saat inilah kita membutuhkan bantuan tripod.

Aperture

Aperture menyatakan lebar bukaan lensa ketika cahaya kita biarkan menerobos masuk ke dalam kamera. Komponen ini seringkali dinyatakan sebagai f/stop, dan rentangnya sangat tergantung dari jenis lensa yang kita gunakan. Untuk kamera Canon gua dengan Lensa 18-55mm USM, rentang f/stop ini berkisar dari f/3.5 (aperture besar, jendela terbuka lebar sehingga membiarkan banyak cahaya masuk) hingga f/29 (aperture kecil, jendela terbuka sempit sehingga sedikit cahaya masuk). Untuk mengatur komponen ini, pastikan setting kendali kamera pada pilihan manual (M) atau mode aperture priority (Av).

Penggunaan aperture sangat erat berhubungan dengan bagaimana kita mengatur fokus dari POI (point of interest) dalam gambar yang kita tangkap. Atau dalam kata lain, seberapa ‘dalam’ secara visual gambar yang ingin kita tangkap. Istilah fotografi dari hal ini adalah Depth of Field. Biar gampang, berikut ilustrasinya :

Gambar ini diambil dengan menggunakan aperture f/4.5 yang lebar, agar lensa terfokus pada bunga semak dan latar belakangnya (rumah merah) menjadi blur (lens blur). Hal ini gua pilih supaya perhatian (yang ngliat nantinya) terletak pada bunga semak saja (sebagai POI), dan background yang blur sebagai atmosfir pendukung yang memberikan sensasi jarak/kedalaman (yang lebih kuat) terhadap si POI.

Bandingkan dengan gambar berikut yang diambil dengan menggunakan aperture f/22 yang sempit, sehingga fokus lensa mencakup seluruh area gambar yang diambil (semak, latar belakang rumah merah, pohon besar dan mobil). Hal ini gua pilih, dengan maksud supaya POI dari gambar adalah seluruh bagian dari gambar tersebut.

Mana yang lebih bagus ?? Tentu saja tergantung selera dan tujuan si tukang fotonya dimana hal ini sangat subyektif dan ga bisa diganggu gugat. Seperti pendapat gua, kalau gua ingin menamakan karya foto gua dengan judul “lonely…. ” tentu saja lebih cocok jika gua memilih gambar yang atas.

ISO

Satu komponen yang ga boleh dilupakan adalah ISO speed (atau ISO saja) seringkali disebut juga ASA. Rentang ISO di kamera digital saat ini biasanya dari 100 to 1600 (Canon 400D yang gua pakai). Semakin tinggi nilai ISO, semakin cepat sensor dalam kamera mengumpulkan cahaya yang berarti juga semakin cepat mengumpulkan noise (terutama pada kecepatan jepret rendah).

Memilih kecepatan ISO sangat tergantung dari kondisi cahaya yang tersedia. Jika kita menaikkan setting kecepatan ISO yang kita gunakan, sebagai contoh dari 100 ke 400, maka kita akan memperoleh nilai exposure yang lebih tinggi (karena cahaya semakin banyak diterima oleh kamera). Beberapa pertimbangan dalam memilih kecepatan ISO

  • · Seberapa banyak obyek terkenai cahaya
  • · Apakah kita ingin menghasilkan gambar yang noisy/grainy apa yang clear (tanpa noise)
  • · Apakah kita pakai Tripod atau tidak
  • · Obyek fotonya bergerak atau tidak

Kalau jawabnya Ya semua, gunakan ISO yang rendah. Kalau jawabnya tidak, gunakan ISO yang lebih tinggi sehingga setting kecepatan jepret bias dinaikkan atau aperture bisa dikecilkan.

Mengendalikan Exposure dengan menggabungkan Seluruh Komponen

Bermain-main dengan exposure pada intinya dilakukan dengan mencoba berbagai kombinasi dari shutter speed, aperture dan kecepatan ISO. Untuk mengejar jumlah cahaya yang seimbang (Exposure meter, Ev = 0), kita bisa mecapainya dengan mengatur shutter speed yang rendah pada aperture yang sempit atau dengan mengatur shutter speed yang tinggi pada aperture yang lebar. Kelihatannya kedua hal tersebut memberikan efek yang sama terhadap gambar yang dihasilkan, akan tetapi tidak selalu begitu, hasil gambar yang tertangkap sangat tergantung pada jenis obyek yang kita ambil (bergerak atau tidak), kedalaman obyek gambar yang kita inginkan dll.

Satu kunci penguasaan exposure yaitu tentu saja dengan banyak melakukan eksperimen.

Arsenal – Barcelona = 2 : 1 Match Review

Wilshere, Fabregas, Van Persie. Penakluk Barca

Wilshere, Fabregas, Van Persie. Penakluk Barca

By Richard Clarke at Emirates Stadium

You must beat the best to be the best – and Arsenal are right on course.

Two goals within five minutes deep into the second half of this exhilarating Champions League encounter turned the tide towards Arsène Wenger’s side on Wednesday night.

Barcelona were brilliant in the first half. David Villa prodded them in front and throughout the 45 minutes they wove a wonderful tapestry of passes. As in the Quarter-Final first leg 12 months ago, Arsenal looked lost.

Little really changed in the second half until, 12 minutes from time, Robin van Persie crashed home a cross-shot from an incredible angle. In the 83rd minute, Samir Nasri set up substitute Andrey Arshavin to slot home the winner.

It was a stunning comeback and almost certainly Arsenal’s greatest victory at Emirates Stadium.

Remember Barcelona’s record-breaking run of 16 straight wins in Liga had only ended at the weekend. And this was only their second meaningful defeat of the season. Barcelona were reputed to be the best team in the world and they were bang in form.

Wenger’s men still have a mammoth task on their hands at the Nou Camp in three weeks time. But they now know they can battle with the best and win.

If they can complete the job in Barcelona, then who knows what they can do.

All eyes were on Arsenal’s No 8 pre-match. When the team-sheets came out Samir Nasri was listed in the team and not on the bench. It was his first appearance since limping off with a hamstring injury against Huddersfield on January 30.

The only other change was enforced. Bacary Sagna was suspended after his dismissal in the final minute of the final group game back in December. Emmanuel Eboue took up the right back role.

Emirates Stadium was a sea of flags as the two teams came out. The Club had put one on every seat and, as usual, the crowd responded wonderfully.

Arsenal may have played Barcelona in last season’s Quarter-Final but the novelty, nor the excitement, had worn off.

This was simply massive.

The early moments were more frantic than finessed. Everyone expected a reprise of that toe-to-toe slugfest last season – except this time the hope was that Arsenal would not take all the early punches squarely on the chin.

And they did not. In fact, they bossed the opening 10 minutes.

Theo Walcott was the spearhead. He sprinted through the midfield in the fourth minute before trying to set up Van Persie on the right of the area. The Dutchman was wrongly called offside.

Then the winger cut in from the right and a Fabregas chip found Van Persie momentarily free at the far post. The Dutchman hooked his shot goalward but Victor Valdes blocked.

Barcelona had been quiet until now. But having dampened Arsenal’s early spark they started to press and hold a higher defensive line.

It soon produced a clear chance. In the 15th minute, Lionel Messi was released by Villa to go one-on-one with Wojciech Szczesny. The little maestro clipped his shot past the keeper but it drifted inches past the far post.

The chance was a reminder of Barcelona’s quicksilver capabilities – like anyone needed one.

By now the visitors had snatched control. Villa whipped in a dangerous cross from the right, Messi chipped a shot into the hands of Szczesny. Arsenal were giving the ball away and struggling to hold them off.

The home side needed a release – and, in the 25th minute, Walcott found them one.

After a Barcelona attack broke down, he sprinted clear and, with the visitors stretched, found Fabregas on the right of the area. His cross seemed destined for the head of the unmarked Van Persie at the far post only for Eric Abidal to nod the ball clear at the last second.

It was Arsenal’s best chance but it did not stem the tide. Quite the opposite in fact.

In the 26th minute, Messi scuttled past Alex Song in midfield and split the Arsenal defence to release Villa. The striker tucked away a simple shot through the keeper’s legs.

Arsenal had been picked apart.

The striker nearly grabbed an immediate second when Daniel Alves found him at the near post. Somehow Arsenal smuggled the ball away.

But Barcelona’s high line did leave them liable to the counter-attack when, on the rare occasion, they lost the ball. There was one example on the half-hour when Jack Wilshere, Arsenal’s best player on the night, strode forward to set up Van Persie. The Dutchman slashed his shot wide.

However these were snatched opportunities. Barcelona were bullying Arsenal with their passing, pressing and movement.

Seven minutes from the whistle, Messi bundled home a close-range header from Pedro’s pass. Thankfully he was flagged offside.

At half-time, there was a strange comparison to make with last season’s game.
Arsenal had been more over-run 12 months ago but this time they were trailing and, on the balance of play, it might have been worse.

Wenger clearly roused his side at the interval because they were better immediately after the restart. Wilshere had an effort saved by Valdes and Van Persie fired over. Territorially Arsenal were on top but they were not creating too much.

This time, it was Barcelona who were playing on the break. In the 56th minute, Pedro went clear and tumbled under the challenge of Koscielny. If it was a penalty then it was a red card too and, probably, game over.

Replays fully justified the referee’s decision to wave play on. Like Wilshere, the Frenchman had an immaculate night.

Nasri’s low cross towards Van Persie at the near post was slid away from danger at the last second.

However, we reached the midway point of the second half, Barcelona were once again turning the screw. Messi danced through only to see his shot blocked. Eboue returned the ball immediately to Andreas Iniesta who slid the Argentinean into space on the left of the area. He could only find the sidenetting.

In the 68th minute, Wenger withdrew Song for Arshavin. It was an attacking move but the Cameroonian had been on a knife-edge since receiving a yellow card in the first five minutes and Arsenal were struggling with 11 men let alone 10.

Nicklas Bendtner came on for Walcott 10 minutes later.

The game seemed to be drifting to its conclusion now. Barcelona were happy enough with 1-0 and Arsenal were struggling create anything close to a clear-cut chance.

Then lightning struck.

Gael Clichy clipped a nonchalant ball to Van Persie on the left-hand byline. The angle was impossibly acute and Gerard Pique was on patrol. However Vales had drifted away from his post and the Dutcman let fly. The ball kissed the near post and flew just inside the far. Stunning.

Like last year, an Arsenal goal suddenly belittled Barcelona. The home side flew into their task and, five minutes later, lighting struck again.

Nasri flew down the right and, with Barcelona undermanned, he showed sufficient poise to settle himself and pick out Arshavin at the far post.

Cool as you like, the Russian found the far corner.

Bendtner saw an angled shot batted away by Valdes. Szczesny saved similarly from Pedro at the other end.

The home held their nerve for a famous win. Barcelona were the more beautiful side on the night but Arsenal had the victory.

This was a turnaround in every sense.

Roll on the return leg. (from: arsenal.com)

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 12,000 times in 2010. That’s about 29 full 747s.

 

In 2010, there were 7 new posts, growing the total archive of this blog to 43 posts. There were 5 pictures uploaded, taking up a total of 203kb.

The busiest day of the year was October 22nd with 108 views. The most popular post that day was ILMU PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, hartoyo.wordpress.com, en.wordpress.com, madinatunnajah.com, and search.conduit.com.

Some visitors came searching, mostly for bani abbasiyah, pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, arsenal, ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, and pendidikan sebagai ilmu.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

ILMU PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN March 2009

2

DAULAH BANI UMAYYAH DAN DAULAH BANI ABBASIYAH March 2009
1 comment

3

HASIL PERADABAN PADA MASA PEMERINTAHAN ISLAM March 2009

4

Pemain Muslim di Kancah Eropa March 2009

5

SUPERVISI PENDIDIKAN March 2009
1 comment

Asap Rokok Kandung 4.000 Zat Kimia Berbahaya

Yogyakarta (ANTARA) – Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida, sianida, uap fosfor, uap senyawa belerang, dan uap hasil pembakaran zat tambahan, kata mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kartono Muhammad. “Bahaya asap rokok 10 kali lebih besar daripada zat `ter` dalam rokok,” katanya pada lokakarya Menuju Kawasan Tanpa Rokok 100 Persen di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Asri Medical Center (AMC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin.

 

Oleh karena itu, menurut dia, asap rokok lebih membahayakan perokok pasif daripada perokok aktif. Dalam asap rokok kadarnya beberapa kali lebih besar dibanding yang diserap oleh perokok aktif. “Dalam satu batang rokok mengandung sekitar 1,5 persen nikotin. Endapan asap rokok yang berupa hasil pembakaran nikotin mudah melekat di benda-benda dalam ruangan, dan bisa bertahan sampai lebih dari tiga tahun, dan tetap berbahaya,” katanya. Advisor Indonesia Institute Social for Development Sudibyo Markus mengatakan Indonesia merupakan konsumen rokok peringkat tiga terbesar di dunia setelah China dan India. Menurut dia, sekitar 240 miliar batang rokok telah dihisap oleh 240 juta penduduk Indonesia. Tingginya jumlah perokok tersebut disebabkan masih rendahnya kesadaran mengenai bahaya nikotin dalam rokok. Selain itu, juga masih adanya anggapan di kalangan masyarakat bahwa rokok adalah warisan budaya. Anggapan tersebut membuat sebagian besar masyarakat enggan untuk meninggalkan kebiasaan merokok. “Kondisi itu ditambah dengan iklan-iklan di media yang menganggap bahwa merokok adalah gaul, modern, dan jantan,” katanya.

 

Rektor UMY Dasron Hamid mengatakan aturan mengenai larangan merokok penting diterapkan di ruang-ruang publik, karena asap rokok berbahaya bagi kesehatan manusia. “Aturan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan di ruang-ruang publik terutama sekolah, kampus, dan kantor. Dengan adanya aturan itu diharapkan nanti seluruh ruang publik bisa benar-benar 100 persen bebas rokok,” katanya. Sumber : id.news.yahoo.com

Mahfud MD : Hukum Mati (para) Koruptor

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD berpendapat, koruptor itu perlu diberi hukuman mati karena upaya membongkar kasus korupsi ternyata tidak mengurangi korupsi. “Kasus korupsi itu sudah berkali-kali dibongkar, tapi korupsi tetap saja ada karena itu sebaiknya ada perbaikan sistem,” katanya setelah berbicara dalam seminar di Gedung PWNU Jatim, Kamis.

Di sela-sela seminar untuk memperingati 100 hari wafatnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, mantan Menhan di era Gus Dur tersebut mengusulkan dua sistem yang diperlukan untuk “menghabisi” korupsi. “Sistemnya, jatuhkan hukuman mati kepada koruptor dan buka peluang UU Pembuktian Terbalik untuk kasus korupsi, tapi UU itu memang harus diberlakukan secara hati-hati,” katanya.

Menurut mantan birokrat, legislator, dan sekarang memimpin lembaga yudikatif (MK) itu, sistem pembuktian terbalik memang harus diberlakukan dengan ekstra hati-hati agar tidak jadi alat memeras. “Kalau tidak hati-hati, sistem pembuktian terbalik itu akan dapat dijadikan alat memeras oleh penegak hukum, karena tersangka korupsi takut mati,” katanya.

Namun, katanya, sistem pembuktian terbalik dapat dilakukan dengan sederhana, misalnya gaji seseorang pejabat adalah Rp10 juta per bulan, maka dalam dua tahun hanya Rp240 juta. “Kalau dalam dua tahun ternyata dia memiliki uang Rp20 miliar, maka dia diminta untuk membuktikan asal-usul uang itu dalam 2-3 bulan dan bila tidak mampu memberikan bukti akan dijatuhi hukuman mati,” katanya.

Dalam seminar itu, Mahfud MD sempat menyinggung kasus staf Ditjen Pajak yang menggelapkan uang Rp28 miliar sebagai koruptor yang tidak sendirian di institusi perpajakan. “Di atas golongan Gayus (III-A) ada banyak mantan pejabat yang rata-rata memiliki uang Rp7 miliar, bahkan ada pejabat perpajakan yang memiliki uang Rp49 miliar yang disebut sebagai uang hibah. Hibah itu biasanya ‘kan untuk masjid, tapi itu untuk pejabat,” katanya.

Seminar itu juga menampilkan KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) yang merupakan adik kandung Gus Dur dan Pdt Simon Filantropha. Seminar diawali dengan istighasah, yasin, dan tahlil. (republika.co.id)